Langsung ke konten utama

[VIII] - 1A. Yesus Pemenuhan Janji Allah (kurikulum merdeka)





Arti dan Makna sebuah Janji
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal istilah janji. Setiap orang bahkan pernah mengungkapkan sebuah janji. Janji adalah suatu kesanggupan untuk melakukan atau mewujudkan sesuatu sesuai dengan yang diucapkan. Janji biasanya juga dilakukan dalam usaha untuk mendapat kepercayaan yang disampaikan secara lisan maupun tertulis sebagai suatu kontrak.
Ada berbagai macam alasan seseorang mau mengungkapkan suatu janji, misalnya karena rasa cinta, ingin membahagiakan orang lain, ingin mewujudkan suatu cita-cita, atau karena rasa tanggung jawab, dan lain sebagainya.
Konsekuensi bagi orang yang mengungkapkan janji adalah menepati janji tersebut. Sebab janji melahirkan harapan bagi orang lain, juga bagi diri sendiri. Janji yang ditepati akan membahagiakan diri orang yang berjanji maupun orang lain.
Janji yang terwujud akan membahagiakan diri orang yang berjanji, orang yang diberi janji, juga membahagiakan orang lain. Sebaliknya, janji yang tidak ditepati akan merugikan diri sendiri, orang yang diberi janji, dan juga orang lain.


Inspirasi dari Kitab Suci tentang makna Janji
Kej 3:8-15
Yes 7:10-14
Luk 2:1-20
Yoh 10:24-30
Akibat dosa yang dilakukannya, Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus. Dalam perjalanan selanjutnya, Allah prihatin atas kedosaan Adam dan Hawa serta keturunannya, sehingga Allah menjanjikan juru selamat.
Pernyataan dalam kitab Suci yang menunjukkan janji Allah akan hadirnya juru selamat, antara lain terdapat dalam Yes 7:14, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu
suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”
Janji Allah telah terpenuhi dalam diri Yesus Kristus yang turun ke dunia dalam wujud manusia, untuk menebus dosa-dosa manusia.


Yesus Pemenuhan Janji Allah, Dia sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh Manusia
Yesus yang merupakan pemenuhan janji Allah tersebut, hadir dalam wujud manusia dengan ciri-ciri selayaknya manusia, seperti:
Yesus memiliki silsilah dalam keluarganya, yang berarti Yesus hidup dalam sejarah manusia, nenek moyang Yesus adalah Abraham (Mat 1:1-17)
Yesus dilahirkan dari rahim Ibu Maria (Luk 2: 1-7),
Yesus berjenis kelamin laki-laki (Luk 2:1-7),
Yesus mencari nafkah dengan ikut membantu orang tuanya yang bekerja sebagai tukang kayu (Mrk 6:3),
Yesus juga mengalami pengalaman yang dirasakan oleh manusia, seperti: lapar dan haus ketika berpuasa (Mat 4:2), mengalami rasa sedih (Mrk 14:34), juga pernah marah (Luk 19:45) tetapi juga pernah merasa takut (Luk 22:42-44), dan bahkan mengalami sengsara dan wafat seperti manusia yang lain (Mat 27:27-50).

Beberapa hal yang menunjukkan Yesus benar-benar Allah yang turun ke dunia, yaitu:
Injil Yohanes menyebut Yesus itu adalah Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:1.14),
Pada waktu kelahiran Yesus, para malaikat menyatakan, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2: 10-11), para bala tentara surga juga memuji Allah, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk 2:13-14).
Bukti bahwa Yesus adalah Allah juga tampak pada sabda Yesus sendiri yang menyatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yoh 14:9); “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” (Yoh 14:11).
Keilahian Yesus juga tampak pada peristiwa mukjizat-mukjizat-Nya, seperti mengubah air menjadi anggur (Yoh 2:8-9), menggandakan lima roti dan dua ikan (Mat 14:15-21), menyembuhkan orang buta (Mat 20:29-34), membangkitkan orang mati (Luk 7:11-16).
Keilahian Yesus juga dapat dilihat dari peristiwa kebangkitan-Nya dari kematian (Mat 28: 1-10) dan kenaikan-Nya ke surga (Luk 24: 50-53).
Keilahian Yesus juga dapat kita ketahui dari pernyataan para Murid Yesus sendiri. Ketika Yesus bertanya, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:15-16). Ketika Yesus meminta Thomas mencucukkan jarinya ke luka Yesus, Tomas berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28).
Keilahian Yesus juga dapat kita temukan dari pernyataan roh-roh jahat yang berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” (Mrk 3:11).

Berdasar kenyataan tentang ciri kemanusiaan dan keilahian Yesus, maka dapatlah dengan berani kita menyatakan bahwa Yesus sungguh Allah dansungguh manusia. Kemanusiaan Yesus tidak menghapus ke-Allahan-Nya.


Dimensi kemanusiaan dan keallahan yang dimiliki manusia
Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan secitra dengan Allah. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri (lih. Kej 1:26). Hal tersebut menegaskan bahwa dalam diri manusia terkandung dimensi kemanusiaan dan dimensi keallahan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain, melainkan merupakan satu kesatuan utuh.
Dimensi kemanusiaan nampak dalam kenyataan berikut: ia diciptakan, lahir dari rahim seorang ibu, berjenis kelamin, mengungkapkan perasaan, dapat sakit, dapat mati dan sebagainya.
Dalam diri manusia juga mengandung dimensi ke-allahan, sehingga manusia dapat mengasihi, dapat berdoa, dapat mengampuni dan sebagainya. Tetapi karena dibatasi kemanusiaannya manusia tidak dapat sepenuhnya memancarkan dan menghadirkan keillahiannya.
Kedua dimensi tersebut perlu dipahami secara baik, sebab karya penyelamatan Allah menggunakan ke dua dimensi tersebut, sehingga penyelamatan Allah bisa dirasakan manusia secara sempurna.